Awal fokus saya adalah refleksi dari pembelajaran kewarganegaraan, sesuai dengan latar belakang pembuatan blog ini. Mungkin saya tidak master atau telah menguasai materi materi buku atau isinya tersebut, tapi paling tidak saya bisa sedikit 'mengritik' buku. Mengritik buku? Paling tidak saya senang bahwa pelajaran kewarganegaraan saya di kelas tidak cuma berkutat di depan buku dan menghafal semua materi disana (capedeh), tapi kami, siswa, diberi kesempatan untuk menganalisis.
Tapi, bagaimanapun itu, kita tak bisa lepas dari perspektif yang sudah terbentuk dari dulu, perspektif konvensional buku. (Mungkin ini bisa ada penjelasan sendiri kali ya, tentang kebiasaan pelajar dan cara mengajar di Indonesia)
Well, let's go to the TKP. Ketika saya membaca perbandingan ideologi - ideologi, disitu tertulis, komunisme, sosialisme, liberal, dan PANCASILA, ya, PANCASILA. Yang pasti, PANCASILA itu mencakup hal hal yang positif, walaupun kadang ngga nyambung ya, tapi positif lah ya pokoknya. Hahaha. Kadang aku berpikir, jika sejak dulu kita diberi pendidikan lewat satu perspektif seperti ini, kok terkesan seperti doktrinasi siswa supaya sepaham gitu ya? Kita tidak diberi ilmu yang sebenarnya, tapi cuma bayang-bayang yang terekayasa. Oke, mungkin agak kurang sopan. Tapi paling tidak contoh simpelnya gini, A, B, C. Kita diajarin bahwa A itu baik, B jelek, C jelek. Boleh sih buku menuliskan seperti itu, hanya buku yang ngga berkualitas yang menuliskan seperti itu dan tanpa analisis (research) yang jelas kenapa itu dibilang jelek atau apalah. Yang ada malah penjelasan muter muter, susah dipahami yang ujung ujung nya gitu doang.
ya sudahlah, sebenarnya masih banyak yang ngganjel di kepala, berbagai alasan alasan sama pemikiranku tentang pembahasan ini, mungkin bisa dipancing pake pertanyaan, tapi siapa yang nanya? ya sudahlah (lagi) kelemahanku emang agak susah buat menyampaikan isi pikiranku untuk ditulis, (alibi karena jarang nulis)
No comments:
Post a Comment